Kisah 8 tahun yang lalu -sebuah kenangan

24 Jan

Cerita ini adalah untuk mengenang apa yang terjadi pada hari Minggu, tanggal 25 Januari 2004.

8 tahun yang lalu.

Hari itu, saya mengikuti turnamen boling diBandung, tepatnya di Grand Universal Bowling Alley, Bandung Super Mall (BSM). Setelah paginya saya bertanding di nomor Master Junior dan Master Grade C, sorenya adalah giliran papa saya bertanding di nomor yang lebih bergengsi : Master 9-Pin no Tap.

Pesertanya di sore itu hebat-hebat, karena selain dariBandung(Jawa Barat), ada juga atlit nasional dariJakartadanSumatrayang ambil bagian. Tak pelak, pertandingan malam itu berlangsung sangat seru dan ketat, hingga tak terasa game sudah berjalan mendekati akhir pertandingan.

Setelah berlangsung lebih dari setengah jalan pertandingan, diumumkan peringkat perolehan skor sementara. Kulihat nama papaku ada di atas. Dia bersaing ketat dengan salah satu peboling junior yang merupakan teman 1 klub-ku, yang sudah berlevel nasional.  Nilai mereka tidak berselisih jauh.

Jadi sangat wajar, dengan waktu yang sudah menuju akhir pertandingan, banyak orang berkumpul di belakang papaku –dan dibelakang teman 1 klub ku itu-, karena merekalah pusat perhatian malam itu. Ya, poin mereka berdua cukup jauh meninggalkan peserta yang lain. Papaku dan temanku ini juga masih punya peluang yang sama untuk keluar menjadi juara 1.

Singkat cerita, dalam salah satu game, aku mendapat posisi di lane 15-16. Di sebelahku, lane 17-18, aku melihat TV monitornya bertuliskan nama salah satu calon kuat juara malam itu : “Frank J.R.M. Sinay”. Ya, momen yang special buatku, karena aku bermain tepat di sebelah papaku.

Saat itu aku merasakan bahwa ketika aku bermain, seberapa bagusnya dan baiknya lemparanku, aku tidak bisa mempengaruhi penonton di belakangku. Sangat berbeda dengan apa yang terjadi di sebelahku. Ketika papaku berhasil membuat strike, hampir semua penonton dibelakangnya bertepuk tangan. Suasananya sangat hidup. Tak terasa, aku jadi tidak konsen bermain; aku jadi tidak memperhatikan permainanku sendiri, tetapi ikut larut dalam permainan papaku –sama seperti para penonton di belakangku.

Aku melihat gerak gerik papaku yang khas –yang aku sudah sangat hafal karena kurang lebih 3 tahun terakhir aku menontonnya bertanding-. Mulai dari cara ia berdiri, cara uniknya memegang bola boling, betapa ritmisnya dia melakukan approach, cara dia melakukan 5 langkah-nya, backswing-nya yang rendah namun kuat, hingga diakhiri dengan release bola dari tangannya dengan perputaran jari yang sangat cepat. Semua hal sulit itu dilakukannya dengan mudah, dengan sempurna, santai, namun sangat bertenaga ketika bolanya berhasil menjatuhkan 10 pin yang ada. Strike. Seperti terhipnotis, penonton pun bersorak.

Padahal, awalnya papaku tidak ada pendukungnya. Papaku tidak pernah mengundang siapa-siapa secara khusus untuk mendukungnya saat bertanding. Waktu itu, dukungan hanya datang dari keluarganya : aku, mamaku, dan adikku Michelle yang waktu itu masih berumur 4 tahun. Ya, menurut papaku, kehadiran kami sudah lebih dari cukup untuk mendukungnya dalam sebuah pertandingan.

Tapi saat itu, kulihat dibelakang papa banyak sekali orang. Orang-orang yang bersorak ketika papaku berhasil strike, dan juga memsang raut kecewa ketika papaku lagi sial mendapatkan miss. Ya, mereka mendukung papaku. Padahal, awalnya mereka mendukung peserta lain -saingan papaku-. Tapi kulihat, saat itu mereka sudah tidak peduli lagi siapa yang didukungnya. Mereka –sama sepertiku- telah larut dalam permainan papaku…

Di game itu, aku bermain dengan terus melihat sosok papaku disebelahku. Aku melihat wajahnya yang serius, aku melihat sikap tubuhnya yang meskipun tidak tegap tetapi penuh kekuatan, aku melihat ekspresinya yang kadang berteriak senang bila mendapat strike, tetapi juga kecewa ketika mendapat miss. Ya, aku melihat bukan hanya sekedar fisiknya, tapi juga semangatnya, mental juaranya, dan fighting spirit-nya.

Aku melihat semua itu, sampai tiba-tiba aku melihat satu pemandangan yang membuat pikiranku kosong. Papaku tiba-tiba terjatuh …

Aku masih ingat persis suasananya. Ketika itu, papaku sedang memegang bola, bersiap-siap untuk melanjutkan melempar. Namun, sebelum papa settle dengan posisi awalnya, dia terjatuh ke belakang. Sedetik kemudian, aku mendengar bunyi yang sangat menyeramkan: suara kepala belakangnya terbentur lantai. Suara benturan kepala papaku yang cukup keras itu menjadi suara terakhir yang aku dengar. Karena setelah itu, seluruh arena boling menjadi hening.

Semua penonton yang berada dibelakang papaku pun terdiam. Aku juga terdiam. Pikiranku kosong. Perasaanku tidak karuan. Nafasku sesak. Tubuhku lemas. Aku tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa berpikir apa-apa. Aku membeku. Aku tidak bisa merasakan apa-apa detik itu…

Aku terdiam melihat papaku tiba-tiba jatuh. Aku terhenyuk ketika melihat papaku tidak bergerak sama sekali di lantai.

Seharusnyakan, dia tidak tiba-tiba jatuh bila tidak ada apa-apa.

Seharusnyakan, dia mengerang kesakitan ketika jatuh.

Seharusnyakan, dia tidak terbaring terus tidak bergerak sama sekali.

Seharusnyakan, dia berdiri lagi setelah itu.

Seharusnyakan, dia masih terus bernafas…

Detik itu, aku terdiam total. Aku tidak bergeming, ketika melihat papaku yang jatuh itu tetap tidak bergerak sedikitpun. Aku tidak bereaksi apa-apa, ketika melihat beberapa dokter –yang sekaligus rekan-rekan boling papaku- melakukan pertolongan pertama kepadanya. Aku mematung, melihat papaku mendapatkan nafas buatan dari salah satu dokter. Aku terpaku melihat itu semua, melihat dada papaku ditekan-tekan oleh mereka, dengan harapan itu bisa menggerakkan kembali jantungnya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku tidak berdaya. Aku hanya bisa bersender ke beberapa temanku yang merangkulku ketika itu, memegang tanganku, sambil menenangkanku.

Aku sama sekali tidak bergerak, sampai salah satu dokter dari sebelah papaku terbaring, memintaku mendekatinya. Aku tidak bisa mendengar apapun detik-detik itu, semuanya adalah keheningan total bagiku, meskipun aku bisa melihat salah satu dari mereka berteriak memanggil ambulance. Dokter itu kemudian menuntunku untuk melakukan hal yang tadi ia lakukan: melakukan nafas buatan kepada papaku. Tanpa pikir panjang, aku langsung melakukannya.

Aku berusaha menolong jantung papaku dengan menekan-nekan dadanya, sambil menghembuskan nafasku melalui mulutnya. Aku melakukan prosedur pernafasan buatan yang baru saja kulihat beberapa menit yang lalu itu dengan sekuat tenaga, beberapa kali. Awalnya aku menekan-nekan dada papaku –persis di daerah jantungnya- dengan kedua tanganku, dilanjutkan dengan meniup mulutnya. Begitu terus, aku melakukannya berulang-ulang.

“Ayolaaah !,” kataku dalam hati, ketika melakukan prosedur itu entah sudah yang ke berapapuluh kali. Aku baru berhenti, ketika beberapa belas menit kemudian, aku mendengar kabar bahwa ambulance telah tiba di lantai parkir basement.

Papaku masih tidak bergerak. Aku belum mendengar lagi hembusan nafasnya dari hidung maupun mulutnya. Dan aku juga belum merasakan lagi detak jantungnya . “Belum. Belum. Belum,” kataku menyemangati diri sendiri, sambil membopong papaku, dibantu beberapa rekan boling, melewati pintu darurat di samping kafetaria, masuk ke lift barang yang langsung terhubung ke basement, menuju mobil ambulance.

Di ambulance, aku tidak melihat apa apa selain papaku. Aku tidak tau keadaan diluar seperti apa, aku tidak tau mobil ini bergerak kemana. Aku tidak tahu semua ; jam berapa saat itu, bagaimana cuaca diluar, dan kerumah sakit mana aku menuju. Yang aku tahu, beberapa menit kemudian, kami sudah sampai di RS yang dituju. Tempat yang pada akhirnya aku ketahui bernama RS Muhammadiyah.

Oleh dokter RS itu, papaku langsung dibawa masuk kedalam, melalui UGD, bersama rekan dokter yang menemani kami dari arena boling. Kami –aku dan mamaku- diminta menunggu diluar ruangan.

Aku sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Aku sudah tidak tahu harus bertindak seperti apa.

Kami hanya berharap nanti dokter keluar dengan kabar baik…..

Beberapa lama kemudian, dokter RS keluar menemui kami. Kami diminta masuk. Aku melihat wajah dokter itu, ketika dia membuka maskernya didepanku. Melihat ekspresinya, darahku bergolak. Itu bukan ekspresi yang membawa kabar baik…..

Aku kemudian masuk duluan sendiri. Mama menunggu diluar. Aku masuk UGD ditemani salah satu dokter dari rekan boling.

Didalam, aku melihat papaku. Papaku terbaring diatas tempat tidur. Papaku, yang setengah jam lalu itu masih bertanding dengan gagah, sekarang dia tidak bergerak sama sekali di tempat tidur. Tidak bergerak. Tidak bernafas. Memejamkan mata.

Aku kemudian melihat layar monitor detak jantung di sebelah tempat tidur itu.Adagaris di layar itu. Garisnya datar. Tidak ada pergerakan, atau puncak-puncak sinyal yang muncul untuk menandakan jantungnya masih berdetak. Aku menatap monitor itu tajam, melihat garis tersebut, terus melihatnya, sambil berharap ada suatu pergerakan disana.

1 menit berlalu, 2 menit, hingga 5 menit kemudian, mataku masih tertuju ke garis itu. Seakan tidak peduli padaku, garis itu tidak berubah sama sekali. Dia masih datar. Dia datar terus…

Nafasku sesak. Kepalaku panas. Aku tidak percaya hal ini terjadi begitu saja. Aku tidak percaya. Aku tidak mau percaya. Papaku…meninggal. Meninggal didepan mataku sendiri.

Rekan dokter yang tadi masuk bersamaku kemudian memegang pundakku dengan lembut sambil dia bergerak keluar. Aku menangkap pesan bahwa ia ingin membiarkan aku berdua saja dengan papaku saat itu. Aku tidak menoleh kepadanya. Aku hanya terpaku melihat papaku di tempat tidur.

Aku mendekatkan kepalaku ke kepalanya. Biasanya, kalau aku begitu, papaku akan langsung menciumku, dan memelukku. Tapi malam itu, semuanya tidak terulang, bahkan ketika aku menempelkan dahiku ke dahinya. Dia tidak menciumku lagi, dia tidak memelukku lagi. Aku tidak merasakan apa-apa. Aku tidak bisa merasakan apa-apa.

Waktu kecil, kalau aku menangis di hadapan papa, dia akan langsung menenangkanku, memelukku. Tapi malam itu, itu tidak terjadi. Bahkan ketika aku menangis persis di atas bola matanya yang tertutup, dia tidak bergerak. Bahkan ketika air mataku membasahi matanya yang tertutup, dia tidak bergerak. Bahkan ketika aku menempelkan mulutku di telinganya untuk membuat dia mendengar dengan jelas bahwa aku sedang menangis, dia juga tidak bergerak.

Aku sadar, seberapapun banyaknya airmataku membasahi wajahnya saat itu, dia tidak akan terbangun. Aku sadar, seberapapun kuatnya aku menggenggam tangannya dan badannya saat itu, dia tidak akan terbangun. Dan aku juga sadar, seberapa kerasnya aku menangis di telinganya, dia tidak akan terbangun. Tapi, sore itu, aku tidak bisa menghentikannya.

Aku terus menangis di wajahnya, membasahi matanya,

Aku terus menggoyang-goyangkan badannya, berharap dia bisa bangun,

Dan aku terus berusaha membangunkan dia lewat kerasnya tangisanku di telinganya.

Sore itu, sekitar pukul 18.00 WIB, dia dipanggil Tuhan, menuju kehidupan kekal di Sorga.

In memoriam,

 

 

 

 

 

 

 

 

Frank James Richard Michael Sinay

18 Maret 1951 – 25 Januari 2004

~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: